Perairan Danau Toba kembali memakan korban. Anjelika Manurung (14), tenggelam di danau terbesar di Indonesia itu. 

Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, Anjelika yang mandi bersama dua temannya sempat dilarang mandi-mandi terlalu dekat ujung pasir (bibir sungai asahan), apalagi berbicara kotor. Namun ketiganya tidak menghiraukan.
“Sudah dilarang mereka. Kan di ujung pasir ini deras airnya, karena aliran sungai itu. Tapi tak di indahkan. Kemudian sudah diperingatkan jangan cakap kotor. Bagaimanapun, kami masih menghargai pesan-pesan orangtua kami dulu. Kalau cakap kotor, fatal. Dan itu selalu kami ingatkan kepada anak-anak kami, maupun pendatang ke pantai ini,” aku Parman Manurung.
Ia menerangkan, para pengunjung yang ingin mandi selalu diarahkan ke hulu, bukan ke arah aliran sungai Asahan. Apalagi pengunjung yang tidak tau berenang.
Sebab, di bagian hulu, kondisi pantai landai dan dangkal. Sedang bagian hilir, pintu keluar aliran sungai, tidak menentu kondisi dasar danau, dan airnya deras. Namun terkadang pengunjung tidak menghiraukannya.
“Seperti tahun lalu, dimana siswi SMP juga yang tenggelam disini, kondisinya juga sama,” tukasnya.
Seperti diketahui, Anjelika yang merupakan anak ke 3 dari 4 bersaudara pasangan Biston Manurung (50) dan Junita br Sianturi. Setelah kedua orangtuanya tidak akur, Bistin membawa keempat anaknya tinggal bersama neneknya Rugun br Sinurat (73) di Sihong.
“Awalnya mereka tinggal di Jakarta. Setelah masalah itu, mereka berempat dibawa ke Tobasa dan tinggal di rumah neneknya. Waktu itu mereka masih kecil-kecil. Yang ngurus, bapaknya sama oppungya sampais ekarang,” tutur Marsius Manurung Bapa tua almarhum.
Anjelika dinyatakan hilang, Rabu (30/11/2016) sore, sekira pukul 13.30 WIB. Siswi SMPN 2 Lumban Julu, warga Desa Sihiong, Kecamatan Bonatua Lunasi, Tobasa itu pertama kali dinyatakan hilang oleh 5 orang teman-temannya yang datang bersamaan kelokasi pantai, rencananya untuk merayakan ulang tahun teman sekelasnya.
Mereka tiba di pantai sekira pukul 12.30 WIB. Lalu korban bersama temannya bernama Putri dan Rama bermain sambil mandi-mandi di pantai. Kemudian sekitar pukul 13.30 WIB, Anjelika bersama kedua temannya berniat keluar dari pantai. Entah mengapa, mereka bertiga terbawa arus. Lantaran semakin terbawa arus, mereka berteriak minta tolong.
Warga yang mengetahui kejadian itu segera datang membantu. Putri dan Rama berhasil diselamatkan, sedangkan Anjelika terhempas arus dan tiba-tiba menghilang.
“Mendengar teriakan gadis itu (kedua teman Anjelika, red), saya spontan berlari, dan langsung membawa Bambu. Dua berhasil saya tarik. Posisi mereka berjarak sekitar 5 meter. Setelah saya tarik, mereka nangis, mana kawanku, katanya,” terang Hisar Napitupulu yang diwawancarai dilokasi kejadian, sebelum jasad Anjelika ditemukan.
Setelah dinyatakan hilang, BPBD Tobasa, Basarnas, Polisi dan TNI beserta masyarakat berbondong-bondong kelokasi kejadian. Berbagai upaya pencarian pundilakukan. Hingga pukul 14.30 WIB jasad korban baru berhasil ditemukan. (pojoksatu)