Disinyalir ada strategi atau kekuatan besar China untuk kuasai
Indonesia. Mereka seperti sudah menyiapkan strategi khusus.
“Bukan kebetulan, tapi ini rancangan para mafia Cina Indonesia
bersama RRC dan Cina-cina perantauan. Targetnya adalah mengusai NKRI. Caranya
dengan menghancurkan Trio Kekuatan: Pribumi, Islam, dan TNI dengan Trio
Kekuatan Cina-Kristen karismatik komunis,” kata Sri Bintang Pamungkas dalam
siaran persnya yang diterima voa-islam.com.
Apa yang dilakukan China, seperti berupaya untuk merusak
Indonesia, dan dilakukan secara massif dan terstruktur. Di antaranya dengan
merusak mental generasi muda dengan mengirimkan narkoba. Narkoba yang dikirim
itu jumlahnya puluhan hingga ratusan kilogram. Dikirim di dalam kemasan pipa
paralon, pipa baja, dan sebagainya.
Selain itu, China juga berupaya merusak kemandirian dan
kedaulatan pangan dengan mengirimkan bibit pertanian yang mengandung bakteri
berbahaya.
Seperti diketahui, Kantor Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno
Hatta membakar dan memusnahkan setidaknya 5000 bibit batang cabai mengandung
bakteri berbahaya beberapa waktu lalu. Bibit cabai ini di bawa dan ditanam oleh
warga China di daerah Bogor.
Belum tuntas masalah
itu, Indonesia juga digempur oleh tenaga kerja asal China. Jumlahnya masih
simpang siur. Bahkan ada yang berani menyebut jutaan.
Kehadiran mereka sungguh
mengkhawatirkan. Misalnya, ketika 70 tenaga kerja asing asal China diamankan Subdit I Indag
Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Banten pada Senin, 1 Agustus 2016
lalu.
Mereka diamankan
dari sebuah pabrik yang sedang dalam proses pembangunan untuk perusahaan semen
di Pulo Ampel, Kabupaten Serang, Banten.
Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, 70 warga China ini merupakan buruh pekerja kasar yang bekerja di perusahaan pabrik semen. Mereka diamankan aparat karena tidak memiliki dokumen ketenagakerjaan resmi yang dikeluarkan dari kantor Imigrasi.
Direktur Krimsus Polda Banten, Komisaris Besar Nurullah, mengatakan 70 pekerja asal China ini merupakan bagian dari 500 pekerja China yang bekerja di pabrik semen tersebut. Jumlah pekerja China yang diamankan ini masih berpotensi bertambah, karena sisanya masih cuti di negaranya.
"Mereka ada yang sudah satu tahun bekerja, ini masih kami cari keterangan," kata
Selain tidak memiliki dokumen resmi, Nurullah mengatakan bahwa keberadaan pekerja ilegal asal China ini diamankan karena keberadaannya sudah meresahkan masyarakat sekitar.
Yang lebih mengherankan lagi, dari pengakuan 70 pekerja ilegal China ini kepada penyidik, mereka rata-rata digaji oleh perusahaan yang mempekerjakan mereka sebagai buruh kasar di Banten sebesar Rp15 juta per bulan.
Kondisi sebaliknya justru dialami buruh warga sekitar, yang juga bekerja sebagai buruh kasar di pabrik tersebut. Warga lokal hanya digaji Rp2 juta per bulannya.
"Mirisnya, tenaga kerja asal kita (Indonesia) hanya digaji Rp2 juta per bulan. Rata-rata per hari Rp80 ribu, sedangkan TKA rata-rata per hari Rp500 ribu," ujar Nurullah.
Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, 70 warga China ini merupakan buruh pekerja kasar yang bekerja di perusahaan pabrik semen. Mereka diamankan aparat karena tidak memiliki dokumen ketenagakerjaan resmi yang dikeluarkan dari kantor Imigrasi.
Direktur Krimsus Polda Banten, Komisaris Besar Nurullah, mengatakan 70 pekerja asal China ini merupakan bagian dari 500 pekerja China yang bekerja di pabrik semen tersebut. Jumlah pekerja China yang diamankan ini masih berpotensi bertambah, karena sisanya masih cuti di negaranya.
"Mereka ada yang sudah satu tahun bekerja, ini masih kami cari keterangan," kata
Selain tidak memiliki dokumen resmi, Nurullah mengatakan bahwa keberadaan pekerja ilegal asal China ini diamankan karena keberadaannya sudah meresahkan masyarakat sekitar.
Yang lebih mengherankan lagi, dari pengakuan 70 pekerja ilegal China ini kepada penyidik, mereka rata-rata digaji oleh perusahaan yang mempekerjakan mereka sebagai buruh kasar di Banten sebesar Rp15 juta per bulan.
Kondisi sebaliknya justru dialami buruh warga sekitar, yang juga bekerja sebagai buruh kasar di pabrik tersebut. Warga lokal hanya digaji Rp2 juta per bulannya.
"Mirisnya, tenaga kerja asal kita (Indonesia) hanya digaji Rp2 juta per bulan. Rata-rata per hari Rp80 ribu, sedangkan TKA rata-rata per hari Rp500 ribu," ujar Nurullah.
Kemudian, dari komposisi pekerja lokal dan asing di pabrik
tersebut juga timpang. Berdarkan pemeriksaan jumlah pekerja lokal hanya 30
persen, dan 70 persen pekerja asing. Nurullah menegaskan akan memanggil
perusahaan yang mempekerjakan warga Tiongok secara ilegal ini.
sumber
:
http://www.nbcindonesia.com/2016/05/target-cina-kuasai-nkri-hancurkan.html

0 Komentar