Hegemoni Iran dan Suriah tak lepas dari kehadiran rudal asal Rusia, S-300. Alutsista asal Rusia ini mampu memberi efek deteren yang optimal. Karena reputasinya itu, S-300 pun bergaung ke Tanah Air. Besar harapan agar rudal S-300 bisa hadir melengkapi sistem hanud TNI. 



“Jika Vietnam saja bisa beli S-300, mengapa Indonesia tidak,” begitu salah satu ungkapan yang sering diutarakan netizen.

Dalam sebuah polling, S-300 secara multak mendominasi pilihan dalam polling yang diikuti 2.129 responden. Di polling dengan tajuk “Indonesia Perlu Kehadiran Sistem Rudal Hanud Jarak Sedang – Jauh. Menurut Anda, Manakah yang Terbaik?” 

Selain S-300, pilihan dalam polling turut menyertakan rudal hanud dari kelas lain (jarak sedang), seperti NASAMS dari Norwegia, LY-80 dan Sky Dragon 50 dari Cina, serta BAMSE dari Swedia. Bahkan yang disebut terakhir resminya masuk kelas SHORAD (Short Range Air Defence), tapi karena punya peluang masuk sebagai rudal hanud jarak ‘menengah’ untuk TNI, maka rudal buatan Saab ini ikut disandingkan.
Dari 2.129 responden, 73,04% (1.555 responden) telah memilih S-300 sebagai rudal hanud jarak sedang – jauh yang paling pas untuk Indonesia. Besarnya efek deteren yang berhasil ‘dinikmati’ Iran untuk untuk melindungi fasilitas nuklir di Fordow bisa menjadi contoh nyata besarnya deteren, belum lagi S-300 dinilai sukses menjadi ‘perisai’ Hasan Al Assad di Damaskus, Suriah. Dalam konteks ke Indonesiaan, adanya rudal sekelas S-300 dipercaya akan mengurangi potensi Black Flight, terutama yang terkait dengan keamanan pada obyek vital.
Mengenai sosok S-300 (SA-10 Grumble), bila suatu saat benar jadi dibeli TNI, maka akan membuat perubahan perimbangan kekuatan di Asia Tenggara dan Australia, apalagi jika TNI AU jadi mendatangkan Sukhoi Su-35, maka peta kekuatan militer akan bergeser di kawasan.
Debut S-300 terbilang sukses menjadi lambang eksistensi teknologi Rusia melawan hegemoni Barat. Rudal ini punya bobot 1,5 ton dengan hulu ledak 100 kg. S-300 dengan panjang 7 meter ini sanggup melesat dengan kecepatan 2 km per detik atau setara Mach 6, sehingga sangat sulit bagi pesawat lawan untuk lepas dari kejaran rudal ini. Jarak jelajah rudal ini pun terbilang spektakuler, antar varian ada perbedaan, tapi yang paling jauh bisa melesat sampai 200 km. Nah, soal ketinggian pun tak ada tandingannya, target di ketinggian 30.000 meter pun mampu disikat. (indomiliter)