Sejak awal diselenggarakan, kekuatan pasukan Timnas Merah Putih dipandang sebelah mata. Tak ada yang memprediksi atau bahkan menempatkan Timnas Indonesia mampu lolos ke babak Final Piala AFF 2016.
Di laga puncak ajang 2 tahunan itu, juara bertahan Thailand akan menjadi lawan yang harus ditumbangkan skuad Garuda sebagai syarat mutlak untuk bisa membawa pulang trofi Piala AFF yang selama ini belum pernah diraih.
Lagi-lagi, menghadapi 4 kali jawara turnamen sepakbola terakbar di Asia Tenggara itu dinilai bakal kembali ditakdirkan menjadi ahli runner-up.
Hal itu tentu saja berkaca pada hasil pertemuan pertama di babak fase grup di Filipina lalu. Saat itu, anak asuh Alfred Riedl dipaksa tunduk dengan skor 4-2 meski sempat 2 kali menyamakan kedudukan.
Akan tetapi, bola itu bundar dan masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi di luar prediksi semua kalangan.
Laga kontra Vietnam di leg kedua semifinal Piala AFF 2016 lalu bisa jadi gambaran. Betapa gempuran ‘7 hari 7 malam’ Vietnam dalam 120 menit laga yang sangat menengangkan, belum mampu menundukkan Boaz Salossa cs, bukan?
Nah, di sisi lain, perjalanan Timnas Indonesia kali ini pun disamakan dengan perjalan Portugal di Euro lalu yang akhirnya menahbiskan diri menjadi jawara Eropa.
Berikut sekelumit analisis yang coba dikulik dan menghasilkan 8 cara agar Timnas Indonesia bisa mengalahkan Thailand:
1. ‘Kegilaan’ suporter
Suporter Indonesia dikenal dengan dukungannya yang bisa membuat ngeri tim-tim manapun. Militansi dan kesetiaan publik Indonesia terhadap timnasnya, jelas tak tebantahkan.
Dukungan tersebut bisa menjadi pemain ke-12 yang bisa hadir di tengah laga untuk memompa semangat dan motivasi punggawa Merah Putih guna melewati apapun rintangan di depan mata, termasuk Thailand!
2. Manfaatkan laga kandang
Bermain di depan publik sendiri jelas menjadi sebuah keuntungan. Dengan ‘kegilaan’ suporter yang tak surut sejak peluit kick off hingga berakhir laga, jelas menambah kekuatan.
Buktinya, sudah bisa dilihat bagaimana Timnas Indonesia kala menjamu Vietnam di Stadion Pakansari lalu. Performa anak asuh Alfred Riedl pun langsung meroket.
3. Adaptasi taktik dan strategi
Di atas kertas, boleh diakui Indonesia kalah segalanya dibanding Thailand. Namun yang perlu diingat, Indonesia juga sejatinya menjadi tim yang cukup menakutkan dengan ketajamannya mengoyak jala gawang lawan.
Uniknya, sejak laga pertama di fase grup, Boaz Salossa cs selalu mencetak 2 gol!
Ada beberapa laga fase grup dimana Riedl membuat Indonesia sangat agresif. Tapi dia juga bisa sangat pragmatis jika dibutuhkan seperti melawan Vietnam di leg kedua semifinal. Hal ini sangat dibutuhkan menghadapi Thailand. Akan lebih baik jika Riedl belajar dari masalah praktik taktik tersebut di laga-laga sebelumnya.
4. Sempurnakan lini bertahan
Masalah yang selalu dihadapi Timnas Indonesia mulai dari laga fase grup hingga leg kedua semifinal lalu, hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan sepenuhnya. Tentu saja, masalah itu adalah lini belakang!
Meski cukup tajam dengan selalu 2 kali membobol jala lawan di tiap laga, gawang Indonesia juga total sudah 10 kali dibobola lawan. Rinciannya, 7 kali di fase grup dan 3 gol di laga semifinal. Maka tak dapat dibantah, lini belakang timnas kita sangat keropos!
Ini yang harus secepatnya diselesaikan Riedl tentu saja. Ia dituntut bisa menemukan formulasi dan komposisi tepat untuk bisa menahan gempuran Thailand.
5. Kuasai lini tengah
Menguasai lini tengah tergantung dari taktik dan filosofi apa yang dipakai Riedl. Prediksi kami, Riedl akan memakai satu gelandang bertahan murni yaitu Bayu Pradana bersama Evan Dimas sebagai box to box yang akan membantu Lilipaly di laga kandang.
Sementara jika keuntungan didapatkan pada laga tersebut, strategi Double Breaker Bayu dan Manahati Lestusen akan kembali terlihat. Menguasai lini tengah, berarti Anda menguasai jalannya permainan entah atraktif atau pragmatis.
6. Lilipaly dan Boaz harus ‘gila’
Boaz dan Stafano Lilipaly memang menjadi tulang punggung Timnas Indonesia saat ini, disamping nama-nama seperti Andik Vermansyah, Evan Dimas Damono, Rizky Pora dan sejumlah nama-nama lainnya.
Namun kedua pemain tersebut, bukan saja pilar tim, melainkan menjadi pembakar semangat dan motovasi seluruh punggaw Merah Putih di setiap laga.
Manakala keduanya tampil menggila, dipastikan skuad Garuda pun ikut menggila.
Manakala keduanya tampil menggila, dipastikan skuad Garuda pun ikut menggila.
Di sisi lain, tentu akan jadi masalah jika pada laga puncak kedua pemain malah tiba-tiba cedera, tidak fit, atau tampil anti-klimaks.
Kreativitas dan skill Lilipaly sangat dibutuhkan untuk menembus lini belakang Thailand yang biasanya cukup agresif naik ke depan. Sementara Boaz adalah kartu AS. Dia yang bisa menciptakan momen-momen ajaib bagi Timnas Garuda.
7. Konsentrasi Penuh
Selain lini pertahanan Timnas Indonesia yang dinilai masih cukup keropos, fokus dan konsentrasi juga tak bisa ditinggalkan begitu saja. Lihat saja penampilan Timnas Indonesia di laga-laga sebelumnya.
Acap kali, menit-menit akhir yang sangat krusial menjadi momok yang berakhir pada robeknya jala gawang Indonesia. Contohnya jelas, laga kontra Thailand kebobolan di menit awal meski mampu menyamakan.
Dan tentu laga leg kedua semifinal melawan Vietnam. Sudah unggul jumlah pemain tapi malah kebobolan dua gol. Para pemain harus konsentrasi 90 menit penuh dan jangan sampai melepas hal itu karena risikonya tinggi.
8. Memori manis untuk Alfred Riedl
Pelatih asal Austria ini sudah menjadi salah satu ikon tak tergantikan di era modern Timnas Indonesia. Meski sempat hengkang, ia pun akhirnya kembali lagi. Kabar yang santer berhembus, ia akan memutuskan pensiun, apapun hasil yang diraih timnas di Piala AFF 2016.
Maka, tidak berlebihan jika memang para pemain termotivasi untuk mempersembahkan kebanggan dan memori manis bagi tukang racik ini sebelum menuntaskan karir kepelatihannya. (pojoksatu)
Maka, tidak berlebihan jika memang para pemain termotivasi untuk mempersembahkan kebanggan dan memori manis bagi tukang racik ini sebelum menuntaskan karir kepelatihannya. (pojoksatu)
(pojoksatu/sdf)

0 Komentar